Seorang yang Berakal
Oleh: M. Ali Mashudi (Kepala TPQ Bumi Damai Al-Arifin Panaragan Jaya)
Dalam Kata Pengantarnya di buku Menolak Wahabi Mbah Kyai Maimun
Zubair Mengutip Dawuhnya Nabi Ibrahim A.S. Beliau berkata: Seorang yang berakal
hendaknya memahami kondisi dan fenomena yang terjadi pada masanya,
memperhatikan apa yang menjadi tanggung jawabnya, dan memahami (menerima) apa
yang menjadi ketentuan Tuhannya.
Penulis mencoba memahami dan insyaAllah tidak (berani) mereduksi
makna yang terkandung dalam perkataan Beliau.
Dulu waktu mondok Kyai M. Idris Djamaluddin pernah dawuh “ Waktu
Mursyid Thoriqoh Syadiliyah Kyai Abdul Jalil bin Mustaim, Kyai Jalil setiap
melihat Pengemis, Pengamen, Orang yang minta-minta disuruh mengasih, Beliau
(Kyai Jalil) dawuh “siapa tahu itu wali Allah”. Setelah Kyai Jalil Wafat,
Tongkat estafet Thoriqoh Syadiliah dipegang oleh Al-Harir Syaikhina Murobbi
Ruhina Muhammad Salahuddin bin Abdul Jalil; karena zaman sekarang Pengamen,
Pengemis, Orang minta-minta itu sudah bukan lagi kebutuhan seperti dulu,
melainkan sudah menjadi Profesi, maka jangan dikasih. Kemudian Kyai Idris
mengatakan Al-Hukmu Yadurru Ma’a Illatihi Wujudan Wa Adaman (Hukum itu
berputar beserta alasannya, ada dan tiadaknya). Sebab meminta-minta dulu itu
suatu kebutuhan (kalau tidak butuh pasti tidak minta-minta), namun sekarang
sudah menjadi profesi dimana meminta-minta lebih menjanjikan penghasilannya disbanding
yang lain, hanya modal alat gitar, ketipung atau andeca-andeci saja, terbukti banyak
pengemis perhari dapat lebih dari 50 ribu.
Seorang pemimpin pun harus berusaha bisa memahami kondisi dan
fenomena yang terjadi pada masanya, zaman Rosulullah SAW (Pemimpin yang Agung)
dengan zaman sekarang (Presiden) jelas berbeda, Dulu zaman Rosul Orang menyembah
Allah sedikit, bahkan tidak ada; kemudian orang-orang kafir diajak oleh Rosul
untuk menyembah Allah dengan cara yang ma’ruf, alhasil banyak sekali
pengikutnya; sehingga Agama Islam menjadi Agama Mayoritas. Berbeda dengan zaman
sekarang (zaman fitnah) K.H. Ahmad Musthofa Bisri pernah suatu ketika diundang
di acara Televiri Mata Najwa (Panggung Gus Mus) Beliau Mengatakan Bahwa ada
keresahan Beliau sebagai Manusia, sebagai warga Indonesia, dan sebagai warga
islam. Sebagai warga Negara/mnusia beliau resah ketika sesame manusia melakukan
tindakan seperti yang dilakukan oleh Qobil kepada Habil (Membunuh) padahal kita
sudah melewati Rasul-Rasul sampai Rasulullah Muhammad SAW. Yang kedua sebagai warga
Indonesia beliau meresahkan orang memfinah didunia nyata dan dunia maya begitu
banyaknya; seperti poto anda dikasih meme-meme (tulisan) untuk mengadu domba
antara satu dengan yang lain. Yang ketiga sebagai warga islam saya berpendapat
bahwa orang islam paling bertanggung jawab di negri ini, karena kita islam ini yang
mayoritas, baik buruknya Indonesia ini tergantung yang mayoritas, tapi kita
tidak memperlihatkan kegagahan yang mayoritas sebagai yang ngayomi, melindungi
malah yang kita perlihatkan seperti orang yang bukan orang islam (karena orang
islam ada tatanannya, panutannya, Rosulnya). Sebagai pemimpin di zaman penuh
fitnah ini jangan sampai memaksakan semua orang suka dan sependapat, karena
zaman Nabi Muhammad saja paman beliau menentang dakwahnya, sehingga mati Su’ul
Khotimah. Lakukan saja apa yang menjadikan kemaslahatan untuk rakyat dengan
Musyawaroh. Pemimpin harus memperhatikan apa yang menjadi tanggung jawabnya,
karena setiap dari kalian adalah pemimpin. Bapak adalah pemimpin Keluarganya,
Rt, Rw, Kades, Camat, Bupati, Gubernur, Presiden, Dll adalah pemimpin bagi rakyatnya
dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Setelah
semua itu diusahakan (ikhtiyar dan Do’a) sikap pemimpin adalah memahami
(menerima) apa yang menjadi ketentuan Tuhannya, sebab keinginan yang kuat
sekalipun tidak akan mampu menembus tirai-tirai takdir.
Pesan Penulis “ Pikirkanlah apa yang menjadi tanggungjawabmu, bukan
Menyibukkan memikirkan sesuatu yang tidak sepenuhnya kau tahu”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar