Rabu, 04 Maret 2020

Seorang yang Berakal


Seorang yang Berakal
Oleh: M. Ali Mashudi (Kepala TPQ Bumi Damai Al-Arifin Panaragan Jaya)
Dalam Kata Pengantarnya di buku Menolak Wahabi Mbah Kyai Maimun Zubair Mengutip Dawuhnya Nabi Ibrahim A.S. Beliau berkata: Seorang yang berakal hendaknya memahami kondisi dan fenomena yang terjadi pada masanya, memperhatikan apa yang menjadi tanggung jawabnya, dan memahami (menerima) apa yang menjadi ketentuan Tuhannya.
Penulis mencoba memahami dan insyaAllah tidak (berani) mereduksi makna yang terkandung dalam perkataan Beliau.
Dulu waktu mondok Kyai M. Idris Djamaluddin pernah dawuh “ Waktu Mursyid Thoriqoh Syadiliyah Kyai Abdul Jalil bin Mustaim, Kyai Jalil setiap melihat Pengemis, Pengamen, Orang yang minta-minta disuruh mengasih, Beliau (Kyai Jalil) dawuh “siapa tahu itu wali Allah”. Setelah Kyai Jalil Wafat, Tongkat estafet Thoriqoh Syadiliah dipegang oleh Al-Harir Syaikhina Murobbi Ruhina Muhammad Salahuddin bin Abdul Jalil; karena zaman sekarang Pengamen, Pengemis, Orang minta-minta itu sudah bukan lagi kebutuhan seperti dulu, melainkan sudah menjadi Profesi, maka jangan dikasih. Kemudian Kyai Idris mengatakan Al-Hukmu Yadurru Ma’a Illatihi Wujudan Wa Adaman (Hukum itu berputar beserta alasannya, ada dan tiadaknya). Sebab meminta-minta dulu itu suatu kebutuhan (kalau tidak butuh pasti tidak minta-minta), namun sekarang sudah menjadi profesi dimana meminta-minta lebih menjanjikan penghasilannya disbanding yang lain, hanya modal alat gitar, ketipung atau andeca-andeci saja, terbukti banyak pengemis perhari dapat lebih dari 50 ribu.
Seorang pemimpin pun harus berusaha bisa memahami kondisi dan fenomena yang terjadi pada masanya, zaman Rosulullah SAW (Pemimpin yang Agung) dengan zaman sekarang (Presiden) jelas berbeda, Dulu zaman Rosul Orang menyembah Allah sedikit, bahkan tidak ada; kemudian orang-orang kafir diajak oleh Rosul untuk menyembah Allah dengan cara yang ma’ruf, alhasil banyak sekali pengikutnya; sehingga Agama Islam menjadi Agama Mayoritas. Berbeda dengan zaman sekarang (zaman fitnah) K.H. Ahmad Musthofa Bisri pernah suatu ketika diundang di acara Televiri Mata Najwa (Panggung Gus Mus) Beliau Mengatakan Bahwa ada keresahan Beliau sebagai Manusia, sebagai warga Indonesia, dan sebagai warga islam. Sebagai warga Negara/mnusia beliau resah ketika sesame manusia melakukan tindakan seperti yang dilakukan oleh Qobil kepada Habil (Membunuh) padahal kita sudah melewati Rasul-Rasul sampai Rasulullah Muhammad SAW. Yang kedua sebagai warga Indonesia beliau meresahkan orang memfinah didunia nyata dan dunia maya begitu banyaknya; seperti poto anda dikasih meme-meme (tulisan) untuk mengadu domba antara satu dengan yang lain. Yang ketiga sebagai warga islam saya berpendapat bahwa orang islam paling bertanggung jawab di negri ini, karena kita islam ini yang mayoritas, baik buruknya Indonesia ini tergantung yang mayoritas, tapi kita tidak memperlihatkan kegagahan yang mayoritas sebagai yang ngayomi, melindungi malah yang kita perlihatkan seperti orang yang bukan orang islam (karena orang islam ada tatanannya, panutannya, Rosulnya). Sebagai pemimpin di zaman penuh fitnah ini jangan sampai memaksakan semua orang suka dan sependapat, karena zaman Nabi Muhammad saja paman beliau menentang dakwahnya, sehingga mati Su’ul Khotimah. Lakukan saja apa yang menjadikan kemaslahatan untuk rakyat dengan Musyawaroh. Pemimpin harus memperhatikan apa yang menjadi tanggung jawabnya, karena setiap dari kalian adalah pemimpin. Bapak adalah pemimpin Keluarganya, Rt, Rw, Kades, Camat, Bupati, Gubernur, Presiden, Dll adalah pemimpin bagi rakyatnya dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Setelah semua itu diusahakan (ikhtiyar dan Do’a) sikap pemimpin adalah memahami (menerima) apa yang menjadi ketentuan Tuhannya, sebab keinginan yang kuat sekalipun tidak akan mampu menembus tirai-tirai takdir.
Pesan Penulis “ Pikirkanlah apa yang menjadi tanggungjawabmu, bukan Menyibukkan memikirkan sesuatu yang tidak sepenuhnya kau tahu”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Buku Pedoman

Membayar Pajak membantu Pendidikan

Judul: Membayar Pajak membantu Pendidikan Harta adalah hal yang sangat disenangi dan dicintai setiap manusia, kecuali orang-orang yang bert...