Hakikat Seorang Guru yang Sejati
(Ulama’)
Oleh: M. Ali Mashudi (Kepala TPQ
Bumi Damai Al-Arifin Panaragan Jaya Tuba Barat)
Berbicara hakikat seorang Guru kita semua
tentu tahu bahwa setiap Orang yang mengajari kita satu huruf saja itu bisa
disebut guru, seperti pada umumnya seorang Kyai, guru madrasah, dosen
itu juga sangat bisa disebut Guru yang bisa kita jadikan panutan. Namun menurut
hemmat penulis guru yang sejati itu adalah Seorang guru itu harus bisa mendidik
dirinya sendiri, setelah bisa mendidik dirinya sendiri baru mendidik orang
lain.atau bisa disebut seorang guru yang Ulama’.
Allah berfirman yang artinya “ Diantara
hamba-hambaku yang paling takut dengan aku adalah Ulama”. Nabi Muhammad SAW
juga mengatakan bahwa “Ulama’ ummatku itu seperti Nabi-Nabinya kaum bani
israil”. Didalam bahasa arab lafadz “Ulama” sendiri bentuknya Jama’ dari lafadz
“Alim” yang berarti orang yang tahu banyak. Dikatakan dalam kitab “Adabul Alim
wa al Muta’alim karya Al-Alim As-Syekh Muhammad Hasyim Asy’ari (Pendiri
Jam’iyah NU) mengatakan bahwa Ulama’ adalah mereka yang selalu takut dengan
Allah dan mereka merupakan sebaik-baik manusia. Dikatakan juga Al-Ulama’ itu
ditinggikan derajatnya sebab mengumpulkan ilmu dan amal. Jadi kesimpulan dari
penulis Ulama’ adalah orang yang takut dengan Allah dan orang yang mengumpulkan
ilmu dan amal, sehingga Ulama’ itu memiliki Akhlaq, ilmu dan Amal.
Perlu penulis sampaikan bahwasanya
seorang guru yang pertama dan paling utama harus bisa memiliki Akhlaq yang baik,
yang pertama akhlaq kepada Allah SWT bahwa dia (guru) sebagai hamba harus
melaksanakan Syariat-syariatNYA dengan penuh Akhlaq, seperti akhlaqnya
sholat dengan bersiap-siap dahulu ketika hendak akan tiba waktunya sholat sebab
akan bertemu dengan penciptanya, mandi, memakai pakaian yang bagus dan wangi
dan lain sebagainya. Yang kedua akhlaq terhadap sesame manusia bahwa dia (guru)
harus menyadari namanya manusia itu tidak akan benar selamanya, tidak mungkin
terus bisa memahami manusia yang lainnya. Seorang guru juga harus bisa
memposisikan dirinya ketika bersama muridnya, temannya, dan keluarganya.
Yang
kedua seorang guru harus memiliki ilmu sebab Imam Ali bin Abi Tholib mengatakan
Maka
beruntunglah orang yang berilmu dan janganlah kau cari penggantinya ilmu,
jikalau manusia itu mati maka orang yang berilmu akan tetap hidup selamanya,
dan Tidak ada satupun yangutama kecuali orang yang mempunyai ilmu, sesungguhnya
ia bisa memberi petunjuk kepada orang yang meminta petunjuk sebagai petunjuk. Ilmu itu adakalanya ilmu dunia maupun ilmu
akhirat, namun penulis lebih memntingkan ilmu akhirat sebab akhirat lebik baik
dan lebih kekal, atau ilmu dunia yang menjadikan takut kepada Allah SWT, sebab
ilmu apapun itu jika tidak disertai dengan rasa takut kepada Allah SWT akan
sangat berbahaya sekali. Ilmu itu harus dicari dan di gurukan kepada orang yang
sanad keguruannya sampai kepada Rosulullah Muhammad SAW, sebab jikalau belajar
suatu ilmu itu tidak ada gurunya maka sudah pasti Syaiton-lah gurunya. Maka
dari itu seseorang ketika mencari ilmu jangan sekali-kali melakukan
kemaksiatan, sebab ilmu itu ibarat “An-Nur” yang tidak akan Allah berikan
kepada pelaku kemaksiatan.
Yang
ketiga ketika seorang Ulama’ sudah memiliki ilmu kemudian harus mengamalkannya,
sebab puncaknya ilmu adalah beramal dengan ilmu yang sudah dipelajari “ilmu
tanpa amal ibarat pohon yang tidak berbuah”, jadi banyak tidak manfaatnya pohon
yang tidak berbuah, apalagi sudah tidak berbuah, berduri lagi. Naudzubillah.
Mengamalkan ilmu termasuk kategori proses panjang yang dilalui para Ulama’,
dikarenakan banyak sekali hambatan dan rintangannya, seperti sifat-sifat Al-Basyariyah
Al-Madzmumah : syahwat, hasud, sombong, dan lain sebagainya, bahkan ancaman
Allah dalam Al-Qur’an Surat As-Shaf ayat 3 memberi efek luar biasa “sangat
besar dosanya disisi Allah apabila kamu mengatakan sesuatu yang kamu sendiri
tidak mengerjakannya”, maka seorang guru ketika menyuruh muridnya makan duduk,
minum menggukan tangan kiri, masuk kelas dengan disiplin, maka seorang guru
(Ulama’) harus melakukan hal tersebut terlebih dahulu. Jangan menyalahkan murid
jika dia makan sambil jalan, minum pakai tangan kiri, masuk kelas telat karena
mereka meniru kebiasaan yang dilakukan oleh gurunya. Jadilah guru yang tingkah
lakunya bisa ditiru oleh murid, serta jangan sampai seorang guru berkata
kasar/jelek pada murid.
Yang ke-empat seorang guru hendaknya mendidik dengan
ikhlas, dan mendoakan muridnya. Setiap mau masukk kelas guru dalam
keadaan suci (punya wudhu), menjaga pandangan yang menimbulkan syahwat, mengajarkan
ilmu yang menjadikan murid takut melanggar syariat Allah SWT. Penulis
menyimpulkan dari berbagai sumber informasi di berita dizaman akhir ini
banyak orang yang memanfaatkan profesi guru yang seharusnya memberi contoh yang
baik, namun mensalah gunakan profesi guru untuk kepentingan pribadinya sendiri,
misalnya menjadi guru agar dapat uang, menjadi guru agar mendapatkan kemulyaan
di masyarakat, menjadi guru supaya bisa bermain bebas dengan muridnya lawan
jenis secara berlebihan, dan lain-lain.
Penulis Menyimpulkan jadilah seorang Guru yang
memiliki minimal enam hal ini, supaya bisa disebut Ulama’ yang istiqomah dan
ikhlas dalam mencerdaskan anak bangsa:
1.
Bertakwa kepada Allah baik secara
lahir dan batin sebagai pribadi sendiri maupun di khalayak umum.
Konsekuensi-nya, berlaku wira’i (menjauhi dari semua barang makruh, shubhat,
dan haram).
2.
Mengikuti Sunnah Rasul dalam semua
kata dan perbuatan. Konsekuensinya selalu waspada dan melakukan budi pekerti
yang baik (luhur).
3.
Mengabaikan semua mahkluk dalam
kesukaan atau kebencian mereka (tidak menghiraukan apakah mereka benci ataukah
suka). Konsekuensinya, tidak menghiraukan makhluk dengan sabar dan tawakal.
4.
Ridha tentang hal sedikit atau
banyak, ringan maupun berat. Konsekuensinya, ridha kepada Allah dengan qana‘ah
(menerima dengan rela hati atas pemberian Allah meskipun sedikit dan tidak
rakus), serta berserah diri kepada Allah.
5.
Kembali pada Allah dalam suka dan
duka. Konsekuensinya, kembali kepada Allah dengan cara bersyukur dalam suka dan
duka berlindung dalam duka.
6.
Menasehati diri sendiri dahulu,
sebelum menasehati murid. Setelah bisa menasehati diri sendiri baru kemudian
menasehati murid, agar yang dinasehati langsung menerima dan menjalankan
nasihat itu.
Dulu As-Syekh M. Idris Djamaluddin pernah
bercerita tentang sebagai pelajar, seringkali pelajar didoktrin agar giat dan
rajin belajar. Mulai dari orang tua sampai guru, semuanya selalu menyuruh
belajar dan belajar, yang tentunya belajar dalam konteks ini adalah dalam
rangka mengasah akal dan logika. Padahal tujuan utama agama Islam bukanlah
mencerdaskan akal manusia, melainkan mencerdaskan hati. Jadi, seharusnya
kecerdasan hati-lah yang diutamakan dalam pendidikan, bukannya kecerdasan akal.
Banyak kita jumpai di sekitar kita orang yang cerdas dan berpendidikan, tapi
kebiasaan sehari-harinya jauh dari standar moral yang utama. Dan untuk hal ini
saya kira tidak perlu-lah mengajukan contoh dengan panjang lebar, karena tanpa
repot menyelidiki, sudah banyak bertebaran manusia berjenis seperti ini. Bukan
berarti Beliau di sini menganggap kecerdasan akal tidak penting, tapi masih ada
yang lebih penting lagi yaitu kecerdasan hati. Karena tanpa dimilikinya
kecerdasan akal, manusia tetap bisa menunjukkan kualitas eksistensinya dalam
kehidupan. Sedangkan manusia tanpa kecerdasan hati, justru akan menjadi momok
yang merusak ketertiban dan ketentraman lalu-lintas kehidupan manusia. Jadi,
sebenarnya dunia pendidikan kita sudah terjebak dalam kekeliruan yang telah
membudaya (jawa: salah kaprah). Pendidikan kita terjebak karena lebih
mementingkan hal yang sunnah-non substansial, yakni kecerdasan otak dan
mengesampingkan hal yang wajib-substansial, yakni kecerdasan hati. Sehingga,
akibatnya ya seperti kondisi negara kita sekarang ini. Kemerosotan tentang
moral ada di mana-mana, dari rakyat jelata sampai pejabat-pejabat pemerintahan.
Ajarkanlah
pada murid yang pertama kalau belajar jangan sekali-kali niat
jadi orang pintar, tetapi niatlah mencari ilmu yg manfaat. Sebab ilmu walaupun sedikit itu hendaknya
dilaksanakan, biar selalu ingat dan manfaat. Semua itu diniati lillahi ta’ala
ittiba’ Rasulillah.
Yang kedua didiklah dan bersihkan hati murid
dari perkara yang orientasinya pada duniawi, sebab yang berhubungan dengan
duniawi itu kotor.
Yang ketiga uang saku dan makanan
harus halal, jangan sampaii syubhat apalagi haram, sebab kalau syubhat, haram
masuk perut maka akan membuat hati keras seperti batu dan ketika dinasihati
tidak akan masuk.
Yang keempat libatkan orang tua
dalam mendidik anak, sebab orang tua punya peran penting dalam mendidik anak,
tanpa orang tua guru akan kesulitan dalam proses pembelajaran sehari-hari,
dengan pasrah dan doanya orang tua murid akan patuh pada guru.
Yang
kelima ajarkan pada murid jangan sampai menyakiti hati seorang guru, sebab
siapapun murid yang menyakiti hati seorang guru maka akan diuji dengan 3 hal,
pertama akan lupa yang telahh dihafalkan, yang kedua lisannya akan tumpul, dan
ketiga jadi orang faqir diakhir hidupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar