Selasa, 03 Maret 2020

Hakikat Seorang Guru yang Sejati (Ulama’)


Hakikat Seorang Guru yang Sejati (Ulama’)
Oleh: M. Ali Mashudi (Kepala TPQ Bumi Damai Al-Arifin Panaragan Jaya Tuba Barat)
Berbicara hakikat seorang Guru kita semua tentu tahu bahwa setiap Orang yang mengajari kita satu huruf saja itu bisa disebut guru, seperti pada umumnya seorang Kyai, guru madrasah, dosen itu juga sangat bisa disebut Guru yang bisa kita jadikan panutan. Namun menurut hemmat penulis guru yang sejati itu adalah Seorang guru itu harus bisa mendidik dirinya sendiri, setelah bisa mendidik dirinya sendiri baru mendidik orang lain.atau bisa disebut seorang guru yang Ulama’.
Allah berfirman yang artinya “ Diantara hamba-hambaku yang paling takut dengan aku adalah Ulama”. Nabi Muhammad SAW juga mengatakan bahwa “Ulama’ ummatku itu seperti Nabi-Nabinya kaum bani israil”. Didalam bahasa arab lafadz “Ulama” sendiri bentuknya Jama’ dari lafadz “Alim” yang berarti orang yang tahu banyak. Dikatakan dalam kitab “Adabul Alim wa al Muta’alim karya Al-Alim As-Syekh Muhammad Hasyim Asy’ari (Pendiri Jam’iyah NU) mengatakan bahwa Ulama’ adalah mereka yang selalu takut dengan Allah dan mereka merupakan sebaik-baik manusia. Dikatakan juga Al-Ulama’ itu ditinggikan derajatnya sebab mengumpulkan ilmu dan amal. Jadi kesimpulan dari penulis Ulama’ adalah orang yang takut dengan Allah dan orang yang mengumpulkan ilmu dan amal, sehingga Ulama’ itu memiliki Akhlaq, ilmu dan Amal.
            Perlu penulis sampaikan bahwasanya seorang guru yang pertama dan paling utama harus bisa memiliki Akhlaq yang baik, yang pertama akhlaq kepada Allah SWT bahwa dia (guru) sebagai hamba harus melaksanakan Syariat-syariatNYA dengan penuh Akhlaq, seperti akhlaqnya sholat dengan bersiap-siap dahulu ketika hendak akan tiba waktunya sholat sebab akan bertemu dengan penciptanya, mandi, memakai pakaian yang bagus dan wangi dan lain sebagainya. Yang kedua akhlaq terhadap sesame manusia bahwa dia (guru) harus menyadari namanya manusia itu tidak akan benar selamanya, tidak mungkin terus bisa memahami manusia yang lainnya. Seorang guru juga harus bisa memposisikan dirinya ketika bersama muridnya, temannya, dan keluarganya.
            Yang kedua seorang guru harus memiliki ilmu sebab Imam Ali bin Abi Tholib mengatakan Maka beruntunglah orang yang berilmu dan janganlah kau cari penggantinya ilmu, jikalau manusia itu mati maka orang yang berilmu akan tetap hidup selamanya, dan Tidak ada satupun yangutama kecuali orang yang mempunyai ilmu, sesungguhnya ia bisa memberi petunjuk kepada orang yang meminta petunjuk sebagai petunjuk. Ilmu itu adakalanya ilmu dunia maupun ilmu akhirat, namun penulis lebih memntingkan ilmu akhirat sebab akhirat lebik baik dan lebih kekal, atau ilmu dunia yang menjadikan takut kepada Allah SWT, sebab ilmu apapun itu jika tidak disertai dengan rasa takut kepada Allah SWT akan sangat berbahaya sekali. Ilmu itu harus dicari dan di gurukan kepada orang yang sanad keguruannya sampai kepada Rosulullah Muhammad SAW, sebab jikalau belajar suatu ilmu itu tidak ada gurunya maka sudah pasti Syaiton-lah gurunya. Maka dari itu seseorang ketika mencari ilmu jangan sekali-kali melakukan kemaksiatan, sebab ilmu itu ibarat “An-Nur” yang tidak akan Allah berikan kepada pelaku kemaksiatan.
            Yang ketiga ketika seorang Ulama’ sudah memiliki ilmu kemudian harus mengamalkannya, sebab puncaknya ilmu adalah beramal dengan ilmu yang sudah dipelajari “ilmu tanpa amal ibarat pohon yang tidak berbuah”, jadi banyak tidak manfaatnya pohon yang tidak berbuah, apalagi sudah tidak berbuah, berduri lagi. Naudzubillah. Mengamalkan ilmu termasuk kategori proses panjang yang dilalui para Ulama’, dikarenakan banyak sekali hambatan dan rintangannya, seperti sifat-sifat Al-Basyariyah Al-Madzmumah : syahwat, hasud, sombong, dan lain sebagainya, bahkan ancaman Allah dalam Al-Qur’an Surat As-Shaf ayat 3 memberi efek luar biasa “sangat besar dosanya disisi Allah apabila kamu mengatakan sesuatu yang kamu sendiri tidak mengerjakannya”, maka seorang guru ketika menyuruh muridnya makan duduk, minum menggukan tangan kiri, masuk kelas dengan disiplin, maka seorang guru (Ulama’) harus melakukan hal tersebut terlebih dahulu. Jangan menyalahkan murid jika dia makan sambil jalan, minum pakai tangan kiri, masuk kelas telat karena mereka meniru kebiasaan yang dilakukan oleh gurunya. Jadilah guru yang tingkah lakunya bisa ditiru oleh murid, serta jangan sampai seorang guru berkata kasar/jelek pada murid.
Yang ke-empat seorang guru hendaknya mendidik dengan ikhlas, dan mendoakan muridnya. Setiap mau masukk kelas guru dalam keadaan suci (punya wudhu), menjaga pandangan yang menimbulkan syahwat, mengajarkan ilmu yang menjadikan murid takut melanggar syariat Allah SWT. Penulis menyimpulkan dari berbagai sumber informasi di berita dizaman akhir ini banyak orang yang memanfaatkan profesi guru yang seharusnya memberi contoh yang baik, namun mensalah gunakan profesi guru untuk kepentingan pribadinya sendiri, misalnya menjadi guru agar dapat uang, menjadi guru agar mendapatkan kemulyaan di masyarakat, menjadi guru supaya bisa bermain bebas dengan muridnya lawan jenis secara berlebihan, dan lain-lain.
Penulis Menyimpulkan jadilah seorang Guru yang memiliki minimal enam hal ini, supaya bisa disebut Ulama’ yang istiqomah dan ikhlas dalam mencerdaskan anak bangsa:
1.   Bertakwa kepada Allah baik secara lahir dan batin sebagai pribadi sendiri maupun di khalayak umum. Konsekuensi-nya, berlaku wira’i (menjauhi dari semua barang makruh, shubhat, dan haram).
2.   Mengikuti Sunnah Rasul dalam semua kata dan perbuatan. Konsekuensinya selalu waspada dan melakukan budi pekerti yang baik (luhur).
3.   Mengabaikan semua mahkluk dalam kesukaan atau kebencian mereka (tidak menghiraukan apakah mereka benci ataukah suka). Konsekuensinya, tidak menghiraukan makhluk dengan sabar dan tawakal.
4.   Ridha tentang hal sedikit atau banyak, ringan maupun berat. Konsekuensinya, ridha kepada Allah dengan qana‘ah (menerima dengan rela hati atas pemberian Allah meskipun sedikit dan tidak rakus), serta berserah diri kepada Allah.
5.   Kembali pada Allah dalam suka dan duka. Konsekuensinya, kembali kepada Allah dengan cara bersyukur dalam suka dan duka berlindung dalam duka.
6.   Menasehati diri sendiri dahulu, sebelum menasehati murid. Setelah bisa menasehati diri sendiri baru kemudian menasehati murid, agar yang dinasehati langsung menerima dan menjalankan nasihat itu.
Dulu As-Syekh M. Idris Djamaluddin pernah bercerita tentang sebagai pelajar, seringkali pelajar didoktrin agar giat dan rajin belajar. Mulai dari orang tua sampai guru, semuanya selalu menyuruh belajar dan belajar, yang tentunya belajar dalam konteks ini adalah dalam rangka mengasah akal dan logika. Padahal tujuan utama agama Islam bukanlah mencerdaskan akal manusia, melainkan mencerdaskan hati. Jadi, seharusnya kecerdasan hati-lah yang diutamakan dalam pendidikan, bukannya kecerdasan akal. Banyak kita jumpai di sekitar kita orang yang cerdas dan berpendidikan, tapi kebiasaan sehari-harinya jauh dari standar moral yang utama. Dan untuk hal ini saya kira tidak perlu-lah mengajukan contoh dengan panjang lebar, karena tanpa repot menyelidiki, sudah banyak bertebaran manusia berjenis seperti ini. Bukan berarti Beliau di sini menganggap kecerdasan akal tidak penting, tapi masih ada yang lebih penting lagi yaitu kecerdasan hati. Karena tanpa dimilikinya kecerdasan akal, manusia tetap bisa menunjukkan kualitas eksistensinya dalam kehidupan. Sedangkan manusia tanpa kecerdasan hati, justru akan menjadi momok yang merusak ketertiban dan ketentraman lalu-lintas kehidupan manusia. Jadi, sebenarnya dunia pendidikan kita sudah terjebak dalam kekeliruan yang telah membudaya (jawa: salah kaprah). Pendidikan kita terjebak karena lebih mementingkan hal yang sunnah-non substansial, yakni kecerdasan otak dan mengesampingkan hal yang wajib-substansial, yakni kecerdasan hati. Sehingga, akibatnya ya seperti kondisi negara kita sekarang ini. Kemerosotan tentang moral ada di mana-mana, dari rakyat jelata sampai pejabat-pejabat pemerintahan.
Ajarkanlah pada murid yang pertama kalau belajar jangan sekali-kali niat jadi orang pintar, tetapi niatlah mencari ilmu yg manfaat. Sebab ilmu walaupun sedikit itu hendaknya dilaksanakan, biar selalu ingat dan manfaat. Semua itu diniati lillahi ta’ala ittiba’ Rasulillah.
Yang kedua didiklah dan bersihkan hati murid dari perkara yang orientasinya pada duniawi, sebab yang berhubungan dengan duniawi itu kotor.
Yang ketiga uang saku dan makanan harus halal, jangan sampaii syubhat apalagi haram, sebab kalau syubhat, haram masuk perut maka akan membuat hati keras seperti batu dan ketika dinasihati tidak akan masuk.
Yang keempat libatkan orang tua dalam mendidik anak, sebab orang tua punya peran penting dalam mendidik anak, tanpa orang tua guru akan kesulitan dalam proses pembelajaran sehari-hari, dengan pasrah dan doanya orang tua murid akan patuh pada guru.
Yang kelima ajarkan pada murid jangan sampai menyakiti hati seorang guru, sebab siapapun murid yang menyakiti hati seorang guru maka akan diuji dengan 3 hal, pertama akan lupa yang telahh dihafalkan, yang kedua lisannya akan tumpul, dan ketiga jadi orang faqir diakhir hidupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Buku Pedoman

Membayar Pajak membantu Pendidikan

Judul: Membayar Pajak membantu Pendidikan Harta adalah hal yang sangat disenangi dan dicintai setiap manusia, kecuali orang-orang yang bert...