Agama Sebagai
Transformasi Sosial
Oleh: M. Ali Mashudi (Kepala TPQ
Bumi Damai Al-Arifin Panaragan Jaya)
Kita semua menyadari agama itu
merupakan konsekwensi dari kehidupan umat manusia yang terus menerus
mendapatkan pengaruh internal maupun eksternal terhadap tata kehidupan dalam
masyarakat. Sehingga tidak ada suatu masyarakatpun yang berhenti dari mengikuti
agama. Yang terpenting bagi kita adalah bagaimana kita melakukan rencana
beragama yang sebaik-baiknya untuk mengkondisikan masyarakat pada masa yang
akan datang menjadi lebih baik dari kondisi yang sekarang.
Agama merupakan sarana bagi hamba
untuk beribadah pada tuhannya, sebab tanpa agama manusia tidak akan mengerti
tentang hakikat menjadi seorang hamba. Membahas agama diindonesia tak akan
lepas dari agama islam, karena mayoritas penduduk Indonesia beragama islam.
Agama islam sendiri menurut hadist yang diriwayatkan Sayyidina Umar bin Khattab
ketika Nabi Muhammad didatangi malaikat jibril, kemudian malaikat jibril
bertanya apa itu Islam ? Nabi Menjawab Islam merupakan sarana seorang manusia
meyakini tuhannya dan meyakini akan utusan tuhan (Rasulnya), mengerjakan
sholat, membayar zakat dan haji bagi yang mampu. Maka sangat tidak etis jika
membahas indonesia mengesampingkan agama islam, sebab keduanya saling berkaitan
di negara indonesia. Sedangkan berbicara tentang transformasi sosial saat ini
sedang dalam kenegatifan yang sangat besar, tak jarang banyak terjadi tindak
pidana disetiap kota, bahkan didesa. Semua itu disebabkan banyak manusia yang
menggunakan agamanya hanya untuk formalitas, bukan untuk prioritas ataupun
kebutuhan sehari-hari. Tak heran jika banyak orang yang beragama islam tapi
mencuri, merampok, korupsi bahkan membunuh sesama. Semua yang dilakukannya tak
lepas dari transformasi sosial sehari-hari.
Fungsi agama sangat berpengaruh
terhadap transformasi sosial pada suatu bangsa, sebab dalam beragama setiap
manusia akan mengerti hakikatnya menjadi seorang hamba, jika mau mendalami
agama tersebut; seperti ngaji, nyantri dan sowan kepada kyai/ulama’. Dari dulu
sampai sekarang fungsi agama sangatlah mendominasi terhadap terciptanya
masyarakat yang manusiawi, dimana agama menjadi tempat kembali dan jalan keluar
untuk memecahkan segala sesuatu hal. Oleh karena itu agama harus menjadi
prioritas dibandingkan yang lainnya. Sebab jika berhubungan dengan agama, nama
tuhan dan sesama manusia juga ikut andil dalam terseleseikannya hak-hak seorang
hamba (hak-hak kepada Allah dan kepada sesama manusia).
Pada dasarnya
agama-agama memiliki esensi yang sama, terutama yang terkait dengan nilai-nilai
kemanusiaan. Namun dalam konteks tertentu, Tuhan pun menetapkan jalan (syariah)
dan cara (manhaj) yang berbeda-beda. Secara teologis perbedaan ini dikehedaki
oleh Tuhan sesuai dalam Al-Quran (5:48). Dengan perbedaan itu, Tuhan
menginginkan satu sama lain saling berlomba-lomba dalam kebaikan yang pada
gilirannya saling menebarkan kasih sayang dan kebaikan. Pada akhirnya, nanti
hanya Tuhan lah tempat kembali seluruh umat manusia dan sekaligus yang akan
memaparkan hakikat adanya perbedaan-perbedaan itu. Dengan begitu, bukan hanya
kesatuan semata yang menjadi esensi agama-agama, tetapi perbedaanpun ialah
kenyataan yang harus dihormati dan diakui, bahkan dikembangkan untuk kebaikan
bersama, karena, tidak mungkin Tuhan menciptakan persamaan saja tanpa perbedaan.
Filosofinya, sebab dengan perbedaanlah bisa membedakan antara Sang Pencipta
(Khaliq) dengan yang diciptakan (makhluq). “Dan kalau Allah menghendaki,
niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa
yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan”.
Pada ayat
tersebut Allah telah memilih satu ummat saja yakni Ummat Islam, ayat diatas
diperkuat “Sesungguhnya agama yang di ridhoi Allah adalah Islam” Dan juga pada ayat “Dan Aku rela Islam
sebagai agama kalian.”Sangat jelas dalam ayat-ayat yang telah dijelaskan
bahwasanya Kebenaran agama hanya ada satu, yaitu agama Islam. Ini bukan
pendapatku atau pendapat orang lain. Ini adalah pernyataan Tuhan Semesta Alam
yang diabadikan di dalam kitab-Nya, yakni Al-Qur’an.
Seorang
sosiolog lain, Radcliffe-Brown mengungkapkan bahwa berbagai peribadatan
memiliki fungsi sosial tertentu ketika, dan sampai batas tertentu.
Peribadatan-peribadatan itu berfungsi untuk mengatur, memperkokoh dan
mentransmisikan berbagai sentimen dari satu generasi kepada generasi lainnya,
juga sebagai tempat bergantung bagi terbentuknya aturan masyarakat yang
bersangkutan.
Dalam kamus
besar bahasa Indonesia Transformasi sosial adalah gabungan dari dua kata
‘transformasi’ dan ‘sosial’. Transformasi dalam ensiklopedi umum merupakan
istilah ilmu eksakta yang kemudian dimasukan ke dalam ilmu sosial dan
humaniora, yang memiliki maksud perubahan bentuk dan secara lebih rinci
memiliki arti perubahan fisik maupun nonfisik (bentuk, rupa, sifat, dan
sebagainya). Sementara kata ‘sosial’ memiiliki pengertian, segala sesuatu yang
mengenai masyarakat; kemasyarakatan, dan kedua, suka memperhatikan kepentingan
umum (suka menolong, menderma dan sebagainya). Menurut hemat Peneliti
Transformasi sosial menurut bahasa dalam ensiklopedi nasional Indonesia
memiliki pengertian diantaranya; perubahan menyeluruh dalam bentuk, rupa,
sifat, watak, dan sebagainya, dalam hubungan timbal balik sebagai
individu-individu maupun kelompok-kelompok. Ida Umami dalam Jurnal
PENGEMBANGAN DIMENSI KEMANUSIAAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM (Didaktika Religia
Volume 3, No. 2 Tahun 2015) mengatakan bahwa Hakekat dan martabat manusia
merupakan inti dari kemanusiaan manusia. Lebih jauh dengan kemanusiaannya itu,
pada diri manusia dapat dilihat adanya lima dimensi kemanusiaannya yaitu: 1)
Dimensi fitrah, 2) Dimensi keindividualan, 3) Dimensi kesosialan, 4) Dimensi
kesusilaan, dan 5) Dimensi keberagamaan.
Dalam
kitab-kitab kuning agama berfungsi sebagai nasihat, oleh karena itu fungsi
agama dalam transformasi sosial menurut Penulis dengan berbekal pengalaman
ngaji dipesantren, ada beberapa fungsi agama islam terhadap Transformasi
sosial/masyarakat, diantaranya:
1.
Agama sebagai sarana pendidikan,
ini mengingatkan kita betapa pentingnya pendidikan masyarakat agar mengenal
agama islam.
2.
Agama sebagai sarana untuk
mendapatkan keselamatan didunia dan diakhirat, sebab dengan agama kita mengerti
mana yang Haq dan yang bathil.
3.
Agama sebagai pedoman hidup dengan
mengikuti Kalam Allah (Al-Quran) dan Al-Hadits Rosulallah, setiap ada
permasalahan pada masyarakat hendaknya dikembalikan pada Al-Quran dan
Al-Hadist.
4.
Agama sebagai ajaran teoritis,
bagaimana kita berperilaku mengikuti norma-norma dan moral yang berlaku.
5.
Agama sebagai identitas diri,
dengan beragama (islam), otomatis kita menolak suatu kaum yang atheis (tidak
beragama).
Agama sebagai
wadah untuk berinteraksi antara satu orang dengan yang lainnya, bahkan
menghormati sesama beragama Sebagaimana Sabda Nabi bahwa sesama umat islam
harus saling menghormati dan membantu.
Kesimpulannya
bahwasanya fungsi agama islam dalam transformasi sosial sangat banyak, namun
yang mendominasi adalah dalam masalah pendidikan baik pendidikan formal ataupun
non formal supaya masyarakat sosial menjadi Al Insan Al Kamil. Dan juga sebagai
lantaran keselamatan dalam dunia dan akhirat, sebab agama (Islam) merupakan
satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah dengan konsekwensi menjalankan
perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Dalam
kaitannya dengan pemahaman keagamaan, faktor ini juga menjadi indikasi untuk
melihat dan mengukur bagaimana masyarakat tersebut menghadapi berbagai hal
sesuai dengan sudut pandangan keagamaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar