Selasa, 03 Maret 2020

Agama Sebagai Transformasi Sosial


Agama Sebagai Transformasi Sosial
Oleh: M. Ali Mashudi (Kepala TPQ Bumi Damai Al-Arifin Panaragan Jaya)
Kita semua menyadari agama itu merupakan konsekwensi dari kehidupan umat manusia yang terus menerus mendapatkan pengaruh internal maupun eksternal terhadap tata kehidupan dalam masyarakat. Sehingga tidak ada suatu masyarakatpun yang berhenti dari mengikuti agama. Yang terpenting bagi kita adalah bagaimana kita melakukan rencana beragama yang sebaik-baiknya untuk mengkondisikan masyarakat pada masa yang akan datang menjadi lebih baik dari kondisi yang sekarang.
Agama merupakan sarana bagi hamba untuk beribadah pada tuhannya, sebab tanpa agama manusia tidak akan mengerti tentang hakikat menjadi seorang hamba. Membahas agama diindonesia tak akan lepas dari agama islam, karena mayoritas penduduk Indonesia beragama islam. Agama islam sendiri menurut hadist yang diriwayatkan Sayyidina Umar bin Khattab ketika Nabi Muhammad didatangi malaikat jibril, kemudian malaikat jibril bertanya apa itu Islam ? Nabi Menjawab Islam merupakan sarana seorang manusia meyakini tuhannya dan meyakini akan utusan tuhan (Rasulnya), mengerjakan sholat, membayar zakat dan haji bagi yang mampu. Maka sangat tidak etis jika membahas indonesia mengesampingkan agama islam, sebab keduanya saling berkaitan di negara indonesia. Sedangkan berbicara tentang transformasi sosial saat ini sedang dalam kenegatifan yang sangat besar, tak jarang banyak terjadi tindak pidana disetiap kota, bahkan didesa. Semua itu disebabkan banyak manusia yang menggunakan agamanya hanya untuk formalitas, bukan untuk prioritas ataupun kebutuhan sehari-hari. Tak heran jika banyak orang yang beragama islam tapi mencuri, merampok, korupsi bahkan membunuh sesama. Semua yang dilakukannya tak lepas dari transformasi sosial sehari-hari.
Fungsi agama sangat berpengaruh terhadap transformasi sosial pada suatu bangsa, sebab dalam beragama setiap manusia akan mengerti hakikatnya menjadi seorang hamba, jika mau mendalami agama tersebut; seperti ngaji, nyantri dan sowan kepada kyai/ulama’. Dari dulu sampai sekarang fungsi agama sangatlah mendominasi terhadap terciptanya masyarakat yang manusiawi, dimana agama menjadi tempat kembali dan jalan keluar untuk memecahkan segala sesuatu hal. Oleh karena itu agama harus menjadi prioritas dibandingkan yang lainnya. Sebab jika berhubungan dengan agama, nama tuhan dan sesama manusia juga ikut andil dalam terseleseikannya hak-hak seorang hamba (hak-hak kepada Allah dan kepada sesama manusia).
Pada dasarnya agama-agama memiliki esensi yang sama, terutama yang terkait dengan nilai-nilai kemanusiaan. Namun dalam konteks tertentu, Tuhan pun menetapkan jalan (syariah) dan cara (manhaj) yang berbeda-beda. Secara teologis perbedaan ini dikehedaki oleh Tuhan sesuai dalam Al-Quran (5:48). Dengan perbedaan itu, Tuhan menginginkan satu sama lain saling berlomba-lomba dalam kebaikan yang pada gilirannya saling menebarkan kasih sayang dan kebaikan. Pada akhirnya, nanti hanya Tuhan lah tempat kembali seluruh umat manusia dan sekaligus yang akan memaparkan hakikat adanya perbedaan-perbedaan itu. Dengan begitu, bukan hanya kesatuan semata yang menjadi esensi agama-agama, tetapi perbedaanpun ialah kenyataan yang harus dihormati dan diakui, bahkan dikembangkan untuk kebaikan bersama, karena, tidak mungkin Tuhan menciptakan persamaan saja tanpa perbedaan. Filosofinya, sebab dengan perbedaanlah bisa membedakan antara Sang Pencipta (Khaliq) dengan yang diciptakan (makhluq). “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan”.
Pada ayat tersebut Allah telah memilih satu ummat saja yakni Ummat Islam, ayat diatas diperkuat “Sesungguhnya agama yang di ridhoi Allah adalah Islam”  Dan juga pada ayat “Dan Aku rela Islam sebagai agama kalian.”Sangat jelas dalam ayat-ayat yang telah dijelaskan bahwasanya Kebenaran agama hanya ada satu, yaitu agama Islam. Ini bukan pendapatku atau pendapat orang lain. Ini adalah pernyataan Tuhan Semesta Alam yang diabadikan di dalam kitab-Nya, yakni Al-Qur’an. 
Seorang sosiolog lain, Radcliffe-Brown mengungkapkan bahwa berbagai peribadatan memiliki fungsi sosial tertentu ketika, dan sampai batas tertentu. Peribadatan-peribadatan itu berfungsi untuk mengatur, memperkokoh dan mentransmisikan berbagai sentimen dari satu generasi kepada generasi lainnya, juga sebagai tempat bergantung bagi terbentuknya aturan masyarakat yang bersangkutan.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia Transformasi sosial adalah gabungan dari dua kata ‘transformasi’ dan ‘sosial’. Transformasi dalam ensiklopedi umum merupakan istilah ilmu eksakta yang kemudian dimasukan ke dalam ilmu sosial dan humaniora, yang memiliki maksud perubahan bentuk dan secara lebih rinci memiliki arti perubahan fisik maupun nonfisik (bentuk, rupa, sifat, dan sebagainya). Sementara kata ‘sosial’ memiiliki pengertian, segala sesuatu yang mengenai masyarakat; kemasyarakatan, dan kedua, suka memperhatikan kepentingan umum (suka menolong, menderma dan sebagainya). Menurut hemat Peneliti Transformasi sosial menurut bahasa dalam ensiklopedi nasional Indonesia memiliki  pengertian diantaranya; perubahan menyeluruh dalam bentuk, rupa, sifat, watak, dan sebagainya, dalam hubungan timbal balik sebagai individu-individu maupun kelompok-kelompok. Ida Umami dalam Jurnal PENGEMBANGAN DIMENSI KEMANUSIAAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM (Didaktika Religia Volume 3, No. 2 Tahun 2015) mengatakan bahwa Hakekat dan martabat manusia merupakan inti dari kemanusiaan manusia. Lebih jauh dengan kemanusiaannya itu, pada diri manusia dapat dilihat adanya lima dimensi kemanusiaannya yaitu: 1) Dimensi fitrah, 2) Dimensi keindividualan, 3) Dimensi kesosialan, 4) Dimensi kesusilaan, dan 5) Dimensi keberagamaan.
Dalam kitab-kitab kuning agama berfungsi sebagai nasihat, oleh karena itu fungsi agama dalam transformasi sosial menurut Penulis dengan berbekal pengalaman ngaji dipesantren, ada beberapa fungsi agama islam terhadap Transformasi sosial/masyarakat, diantaranya:
1.      Agama sebagai sarana pendidikan, ini mengingatkan kita betapa pentingnya pendidikan masyarakat agar mengenal agama islam.
2.      Agama sebagai sarana untuk mendapatkan keselamatan didunia dan diakhirat, sebab dengan agama kita mengerti mana yang Haq dan yang bathil.
3.      Agama sebagai pedoman hidup dengan mengikuti Kalam Allah (Al-Quran) dan Al-Hadits Rosulallah, setiap ada permasalahan pada masyarakat hendaknya dikembalikan pada Al-Quran dan Al-Hadist.
4.      Agama sebagai ajaran teoritis, bagaimana kita berperilaku mengikuti norma-norma dan moral yang berlaku.
5.      Agama sebagai identitas diri, dengan beragama (islam), otomatis kita menolak suatu kaum yang atheis (tidak beragama).
Agama sebagai wadah untuk berinteraksi antara satu orang dengan yang lainnya, bahkan menghormati sesama beragama Sebagaimana Sabda Nabi bahwa sesama umat islam harus saling menghormati dan membantu.
Kesimpulannya bahwasanya fungsi agama islam dalam transformasi sosial sangat banyak, namun yang mendominasi adalah dalam masalah pendidikan baik pendidikan formal ataupun non formal supaya masyarakat sosial menjadi Al Insan Al Kamil. Dan juga sebagai lantaran keselamatan dalam dunia dan akhirat, sebab agama (Islam) merupakan satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah dengan konsekwensi menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Dalam kaitannya dengan pemahaman keagamaan, faktor ini juga menjadi indikasi untuk melihat dan mengukur bagaimana masyarakat tersebut menghadapi berbagai hal sesuai dengan sudut pandangan keagamaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Buku Pedoman

Membayar Pajak membantu Pendidikan

Judul: Membayar Pajak membantu Pendidikan Harta adalah hal yang sangat disenangi dan dicintai setiap manusia, kecuali orang-orang yang bert...